Kisah Teladan

Kisah Pembangunan Ka’bah

Ka’bah di bangun oleh nabi Ibrahim dan putranya yaitu nabi Ismail.Ka’bah adalah tempat khusus untuk beribadah,tempat bagi seluruh manusia untuk menegakkan peribadatan hanya kepada Allah saja.Karena pada saat itu, terdapat banyak kejahatan, manusia telah melupakan kebesaran Allah dan kesempurnaan Allah.Mereka menaruh harapan kepada benda-benda seperti batu-batu dan pohon-pohon.Allah yang maha Tinggi melihat segalanya dan Dia menginginkan untuk mengembalikan manusia kepada jalan menuju surga dengan memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mbngun Ka’bah.

Ka’bah di bangun di Mekah.Allah mengirimkan angin sejuk untuk membimbing Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.Mereka mengikuti angin itu dengan Kampak.Di saat angin terus bertiup,mereka mengikutinya di belakang.Ia kemudian berhenti tepat di titik mana Ka’bah akan di bangun.Kemudian dengan Kampak mereka mulai menggali,mereka membawa batu-batu besar yang akan membentuk empat dinding.Ketika mereka meletakkan batu-batu tersebut,mereka berdo’a (dalam surah al baqoroh ayat 127-129).

Ketika batu demi batu di letakkan ,dinding Ka’bah mulai menjadi lebih tinggi.Sehingga Nabi Ibrahim tidak lagi dapat mencapai puncaknya.Nabi Ismail menemukan batu besar dan meletakkannya,kemudian Nabi Ibrahim berdiri di atasnya.Akhirnya beliau dapat menyempurnakan dinding Ka’bah itu.

Ketika susunan batu di semen.Ka’bah yang besar telah di bangun.Ka’bah menjadi simbol Tauhid bagi semua manusia.Dia berdiri menjadi peringatan pada hari ini,bahwa tidak ada yang berhak di ibadahi dengan benar melainkan Allah.

Itulah kisah bagaimana Ka’bah di bangun.Kita belajar bahwa Ka’bah di bangun untuk alasan yang besar.Alasan yang sama ketika Allah menciptakan kita untuk beribadah hanya kepada Allah.Inilah kebenaran dan kita mencintainya.

Dan segala sesuatu yang di sembah selain Allah adalah dusta.Itu adalah kezaliman/kejahatan yang paling besar dan kita membencinya.

Allah menjadikan kita muslim,dan sebagai muslim,Allah memerintahkan kita untuk mengikuti contoh yang di berikan oleh Nabi Ibrahim.Ketika beliau berdoa agar Allah mengutus seorang Rasul terakhir.Maka Allah mengutus Rasul-nya Muhammad Saw.Nabi kita Muhammad Saw juga berada di atas jalan Ibrahim.Jalan yang lurus ini adalah jalan Islam.Islam telah lengkap dan sempurna.Islam adalah jalan lurus menuju Surga.

 

Disusun: Ika Ratnasari

Perjalanan Panjang Salman Al-Farisi Menemukan Islam

Barang siapa yang mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya. Demikianlah penggalan ayat yang kiranya sesuai dengan kisah yang terjadi pada salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Salman Al-Farisi. Pencarian panjang Salman untuk menemukan kebenaran telah melewati perjalanan yang berliku. Hingga akhirnya, ia menemukan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang membuatnya memeluk Islam.

Dikutip dari buku berjudul “Perjalanan Mencari Kebenaran, Seorang Laki-laki bernama Salman Al-Farisi” karya Dr Saleh as-Saleh, Salman dikatakan menceritakan kisahnya kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad yang bernama Abdullah bin Abbas. Abdullah kemudian menceritakan kisah seorang Salman itu kepada yang lainnya.

Salman adalah seorang sahabat Nabi yang berasal dari bangsa Persia, yaitu dari sebuah desa bernama Jayyun di kota Isfahaan. Ayahnya adalah seorang kepala desa. Karena sikap baiknya kepada sang ayah, Salman dipercaya ayahnya untuk mengawasi api yang dia nyalakan. Demikianlah, ayah Salman adalah seorang Majusi yang menyembah api.

Suatu hari, ayahnya memintanya untuk pergi ke tanah miliknya dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Namun dalam perjalanan menuju tempat yang dituju, ia mendengarkan suara orang-orang yang tengah shalat di dalam gereja Nasrani. Selama hidupnya, Salman memang dibatasi ayahnya dari dunia luar. Rasa penasaran membuat Salman masuk ke dalam gereja dan melihat apa yang mereka lakukan.

Saat melihatnya, Salman mengaku bahwa ia menyukai shalat mereka dan tertarik terhadap agama Nasrani. Salman memang memiliki pemikiran yang terbuka dan bebas dari taklid buta.

“Saya berkata (kepada diriku), ‘sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’. Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.”

Salman menganggap agama tersebut adalah keimanan yang benar. Ia lantas bertanya kepada orang-orang di gereja, ‘darimana asal agama tersebut?’. Mereka menjawab: ‘Dari Syam’. Negara Syam saat dikenal termasuk empat negara, yaitu Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon.

Salman tetap mengingat ayahnya dan kembali, setelah ayahnya mengirim seseorang untuk mencarinya. Ia lantas menceritakan apa yang dialaminya dan termasuk ketertarikannya kepada agama Nasrani itu. Sang ayah lantas menegaskan, bahwa tidak ada kebaikan pada agama Nasrani. Sang ayah bersikeras bahwa agama Majusi adalah agama nenek moyangnya yang lebih baik.

Namun, Salman menegaskan, bahwa agama Nasrani itu lebih baik dari Majusi. Karena pendiriannya itu, ayahnya kemudian mengancamnya dan merantai kedua kakinya serta memenjarakannya di rumahnya.

Namun, hal itu tak lantas menyurutkan langkah Salman untuk melanjutkan pencariannya akan kebenaran. Ia lantas mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani dan meminta mereka memberi kabar jika ada pedagang Nasrani datang dari Syam. Ia juga meminta orang Nasrani untuk mengabarinya kapan rombongan dari Syam itu kembali ke negerinya. Setelah rombongan itu bersiap kembali ke Syam, Salman lantas melepaskan rantai dari kakinya dan mengikuti rombongan itu sampai tiba di Syam.

Saat di Syam, ia bertanya dan mencari sosok yang paling alim di antara orang dari agama mereka. Mereka kemudian menunjuk pada seorang pendeta di dalam gereja. Salman kemudian mendatangi sang pendeta dan berkata bahwa ia menyukai agama Nasrani dan akan berkhidmah di gereja.

Namun, Salman menemukan sesuatu yang buruk dari pendeta itu. Salman bercerita, bahwa pendeta itu memerintahkan kaumnya untuk membayar sedekah. Namun, ia hanya menyimpannya bagi dirinya sendiri dan tidak memberikannya kepada orang-orang miskin.

Salman yang membenci perbuatan sang pendeta. Hingga akhirnya sang pendeta meninggal, ia membuka keburukannya kepada kaumnya dan menunjukkan harta simpanan berupa tujuh guci emas dan perak yang disembunyikan sang pendeta. Kaumnya lantas enggan menguburkan sang pendeta dan mencaci makinya.

Namun sebelum sang pendeta meninggal, Salman bertanya dan meminta wasiat siapa yang akan diikutinya setelah pendeta itu tiada. Sang pendeta kemudian menunjuk kepada seorang laki-laki di Musil, kota besar di barat laut Iraq.

Salman pun mendatangainya dan tinggal bersama dengan orang yang berpegang pada ajaran Nasrani seperti pendeta sebelumnya. Ketika ajal mendatangi laki-laki itu, Salman kemudian meminta kepadanya wasiat untuk mengikuti orang lain yang berada di atas agama yang sama. Laki-laki itu kemudian menunjuk pada seorang laki-laki di Nasibin, sebuah kota di tengah perjalanan antara Musil dan Syam, bernama fulan bin fulan.

Hal serupa kembali terjadi. Sosok yang diikuti juga meninggal, setelah Salman mengikutinya beberapa waktu. Wasiat yang sama lantas diminta Salman kepadanya sebelum ajal menghampiri. Laki-laki itu mewasiatkan Salman untuk bergabung dengan seseorang di Amuriyah, sebuah kota yang merupakan bagian dari Wilayah Timur Kekaisaran Romawi.

Setelah mendatang orang yang dimaksud, Salman kemudian bekerja dan mendapatkan beberapa ekor sapi dan seekor kambing. Ajal mendekati laki-laki Amuriyah tersebut. Salman pun mengulang permintaannya. Namun, kali ini jawabannya berbeda.

Laki-laki itu berkata: “Wahai anakku! Saya tidak mengenal seorang pun yang berpegang pada perkara agama yang sama dengan kita. Namun, seorang Nabi akan datang pada masa kehidupanmu, dan Nabi ini berada pada agama yang sama dengan agama Ibrahim.”

Seperti yang terkandung dalam QS Al-Baqarah ayat 132, Nabi Ibrahim mewasiatkan ucapan kepada anak-anaknya untuk tidak mati kecuali dalam memeluk agama Islam.

Ibrahim menikahi Sarah dan Hajar. Keturunannya dari perkawinannya dengan Sarah adalah Ishak, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa dan Isa alaihissalam. Sedangkan keturunannya dari perkawinannya dengan Hajar adalah Ismail dan Muhammad. Ismail dibesarkan di Makkah, Arab Saudi, dan Muhammad adalah keturunannya.

Laki-laki itu menggambarkan Nabi Muhammad SAW. Dia akan diutus dengan agama yang sama dengan (agama) Ibrahim. Dia akan datang di negeri Arab dan akan hijrah ke wilayah antara dua wilayah yang dipenuhi oleh batu-batu hitam (seolah telah terbakar api). Ada pohon-pohon kurma tersebar di tengah-tengah kedua tanah ini. Dia dapat dikenali dengan tanda-tanda tertentu. Dia (akan menerima) dan makan (dari) makanan yang diberikan sebagai hadiah, tetapi tidak akan makan dari sedekah. Stempel kenabian akan berada diantara pundaknya. Jika engkau dapat pindah ke negeri itu, maka lakukanlah.

Suatu hari, beberapa pedagang dari Bani Kalb melewatinya. Salman lantas meminta mereka untuk membawanya ke negeri Arab dan sebagai gantinya ia akan memberikan sapi-sapi dan kambing yang dimilikinya. Namun ketika mereka mendekati Wadi Al-Qura (dekat dengan Madinah), mereka menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi.

Suatu hari, sepupu majikan Salman dari suku Yahudi Bani Quraidha di Madinah datang berkunjung dan membeli Salman. Ia lantas membawa Salman ke Madinah. Hingga suatu hari, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Salman berkata: (Suatu hari) saya sedang berada di atas pohon kurma di puncak salah satu rumpun kurma melakukan beberapa pekerjaan untuk majikanku. Saudara sepupunya datang kepadanya dan berdiri di hadapannya (majikan Salman sedang duduk) dan berkata, Celaka Bani Qilah (orang-orang dari suku Qilah), mereka berkumpul di Quba di sekitar seorang laki-laki yang datang hari ini dari Makah mengatakan (dirinya sebagai) seorang Nabi!

Saya bergetar hebat ketika mendengarnya hingga saya khawatir saya akan jatuh menimpa majikanku. Saya turun dan berkata, Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan? Majikanku menjadi marah dan memukulku dengan pukulan yang kuat seraya berkata, Apa urusanmu mengenai ini? Pergi dan kerjakanlah pekerjaanmu!”

Pada malam itulah, Salman pergi menemui Rasulullah ketika berada di Quba. Saat bertemu, Salman memberikan apa yang dia simpan sebagai sedekah. Salman pun menawarkannya kepada Muhammad. Rasulullah berkata kepada para sahabatnya untuk memakannya. Namun, beliau sendiri tidak memakannya. Saat itulah, Salman merasa yakin bahwa Rasulullah adalah sosok Nabi yang dimaksud.

Salman kemudian mendatangi Nabi kembali dan membawa hadiah untuknya di Madinah. Ia mengatakan kepada Nabi, bahwa dirinya tidak melihat Nabi memakan makanan dari sedekah. Karena itu, ia meminta Nabi memakan hadiah darinya. Nabi lantas memakannya dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya. Saat itulah, ia melihat ada dua tanda kenabian pada diri Rasulullah.

Pada pertemuan ketiga, Salman datang ke Baqi’ul Gharqad (tempat pemakaman para sahabat Nabi). Yang mana, saat itu Nabi tengah menghadiri pemakaman salah seorang sahabatnya. Saat itu, Salman menyapanya dengan sapaan Islam ‘Assalamu’alaikum’, dan kemudian berputar ke belakangnya untuk melihat stempel kenabian yang digambarkan kepadanya.

Ketika Nabi melihatnya, Beliau mengetahui bahwa ia tengah berusaha membuktikkan sesuatu yang digambarkan kepadanya. Beliau melepaskan kain dari punggungnya dan membiarkan ia melihat stempel itu.

Salman berkata: “Saya mengenalinya. Saya membungkuk dan menciumnya dan menangis. Rasulullah memerintahkanku untuk berbalik (yakni berbicara kepadanya). Saya menceritakan kisahku. Beliau sangat menyukainya sehingga memintaku menceritakan seluruh kisahku kepada para sahabatnya.”

Saat itu, Salman masih menjadi budak majikannya. Karenanya, ia tidak mengikuti dua peperangan menghadapi kaum kafir Arab. Namun, Nabi memintanya untuk membuat perjanjian dengan tuannya untuk membebaskannya dari status budak. Salman lantas mendapatkan persetujuan dengan tuannya. Yang mana, dia akan membayar majikannya 40 ukiyah emas dan berhasil menanam 300 pohon kurma yang baru.

Nabi saat itu meminta para sahabat untuk membantu Salman mengumpulkan jumlah pohon kurma yang diminta. Nabi kemudian memerintahkan Salman untuk menggali lubang yang cukup untuk menanam bibit. Rasulullah kemudian menanam setiap bibit dengan tangannya sendiri. Salman lantas memberikan pohon-pohon itu kepada majikannya.

Di sisi lain, Nabi juga memberi Salman emas sebesar telur ayam dan memintanya untuk memberikan emas seberat 40 ukyah itu kepada majikannya sebagai penebus utang. Salman pun akhirnya dibebaskan. Sejak saat itu, Salman menjadi sahabat dekat Rasulullah.

 

Sumber:

Dunia-islam Khazanah – Indonesia
Perjalanan Panjang Salman Al-Farisi Menemukan Islam
Selasa , 09 Jan 2018, 00:47 WIB
Salman al-Farisi mengembara jauh untuk sampai ke Madinah.
Caseantiques.com
Salman al-Farisi mengembara jauh untuk sampai ke Madinah.
Rep: Kiki Sakinah Red: Agus Yulianto

Disusun: Nurul Fitroh, S.Pt

Keutamaan Bulan Sya’ban

Suatu waktu sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, aku tidak
pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban?
Rasulullah saw. menjawab: “Itu bulan di mana manusia banyak melupakannya, yaitu antara Rajab dan
Ramadhan. Di bulan itu segala perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin
ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i). Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah az Zahidiy bahwa dia berkata: Kawan saya Abu Hafshin al
Kabir telah meninggal dunia, maka saya menyalatinya. Dan saya tidak mengunjungi kuburnya lagi selama
delapan bulan. Kemudian saya bermaksud menengok kuburnya. Ketika saya tidur di malam hari, saya bermimpi melihatnya, mukanya berubah menjadi pucat. Saya
bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya. Kemudian saya bertanya kepadanya: “Subhanallah, mengapa engkau tidak menjawab salam saya?”
“Membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah,” jawabnya. “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dulu berwajah bagus?” tanya saya. Dia menjawab: “Ketika saya dibaringkan di dalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk di sebelah
kepala saya seraya berkata: “Hai si tua yang jahat!,” lalu dia menghitung semua dosa saya dan semua
perbuatan saya yang jahat, bahkan dia memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar. Kubur pun berkata kepada saya: “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku?”, lalu kubur pun
menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang rusuk saya menjadi bertebaran dan
sendi-sendinya menjadi terpisah-pisah, siksaan itu berlangsung sampai malam pertama bulan Sya’ban. Waktu itu ada suara mengundang dari atas saya: “Hai malaikat, angkatlah batang kayumu, dan siksamu dari
padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidup-hidupkan satu malam dari bulan Sya’ban selama
hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari di bulan Sya’ban.” Maka Allah SWT menghapuskan siksa dari padaku karena aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan puasa satu hari di bulan Sya’ban. Kemudian Allah memberi kegembiraan kepadaku dengan surga dan kasih sayang-Nya. Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arob, makna kata Sya’ban adalah dari lafadz ‘Sya’aba’ atau berarti ‘dhoharo’ (tampak) diantara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan.

by. Putri

Luqman Al Hakim sang Pemberi Hikmah

Kisah Luqman Al-Hakim sudah Allah SWT jelaskan di dalam Al-Quran.
Luqman adalah seorang manusia yg bukan Nabi, tapi banyak memberi teladan dan nasihat-nasihat yang baik ketika terjadi kekosongan Nabi yang diutus setelah Nabi Isa dan sebelum Nabi Muhammad SAW.

Berikut beberapa nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang bisa kita teladani untuk disampaikan kepada anak-anak kita :

1) Luqman Mengajarkan Anaknya Jangan Mempersekutukan Allah.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” [QS. Luqman 13]

2) Kisah Luqman mengajarkan Menyayangi dan Berbakti Pada Orang Tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS. Luqman 13]

Penghormatan dan bakti anak kepada orang tua ini menempati urutan kedua setelah berbakti kepada Allah.

3) Ajarkan Anak Bahwa Allah Mengetahui Keadaan Hamba-Nya.

“(Luqman berkata) “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [QS Luqman 16]

Imam Al-Qurthubi berkata,

“Telah diceritaka bahwa putra Luqman bertanya pada ayahnya mengenai sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Luqman pun menjawab dengan mengulang jawaban dalam firman Allah “Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha mengetahui.” (QS Luqman 16)

4) Ajarkan Anak Dirikan Sholat, Sabar, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [QS. Luqman 17]

5) Ajarkan Anak Jangan Sombong.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman 18]

Menurut Imam Al-Qurthubi ayat tersebut bermakna, “janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena kesombonganmu, merasa besar diri, angkuh, dan meremehkan mereka”. Hal ini karena Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan membanggakan diri.

6) Bersikap Pertengahan.

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [QS. Luqman 19]

Imam Al-Qurthubi berkata, sesudah Luqman memberi peringatan terhadap anaknya agar selalu waspada terhadap akhlak tercela, ia pun kemudian menggambarkan akhlak mulia yang harus dikenakannya. Yaitu bersikap pertengahan dalam berjalan yang juga dimaksud berjalan diantara langkah cepat dan lambat. Dan melunakkan suara yaitu mengurangi suara keras.

Demikianlah 6 nasihat bijak Luqman Al Hakim yang disampaikan kepada anaknya. Dan ini masih relevan tentunya kita sampaikan kepada anak-anak kita di masa sekarang.
Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang Qurrotaa’yun, sholeh dan sholehah hingga mencapai syurga insyaAllah.. aamiin…

by. Tri Yanto

Mengambil Hikmah Kisah Kesabaran Nabi Ayyub

Nabi Ayub adalah seorang nabi yang berasal dari Romawi. Kisah nabi Ayub merupakan kisah yang penuh kesabaran dan hikmah. Sebelumnya, Nabi Ayub merupakan orang yang sangat kaya raya. Dia memiliki harta yang berlimpah, anak yang banyak, dan juga merupakan orang yang shaleh.

Hingga suatu hari, Allah menguji Nabi Ayub dengan penyakit lepra atau kusta. Bersamaan dengan itu, Nabi Ayyub juga kehilangan harta dan anak-anaknya. Hal tersebut berlangsung selama puluhan tahun sebelum pada akhirnya Allah mengangkat semua kesulitan tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik dan lebih banyak dibandingkan dengan yang hilang.

Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah Nabi Ayyub, berikut ini adalah beberapa di antaranya.:

1. Bersyukur dan dermawan saat kaya, dan bersabar saat miskin.

Saat memiliki harta yang berlimpah, Nabi Ayyub bukanlah orang yang kikir dan tamak. Orang – orang mengenal Nabi Ayyub sebagai orang yang baik, bertakwa, dan menyayangi orang miskin. Dengan harta yang dimiliki, Nabi Ayyub biasa memberi makan orang miskin, menyantuni janda, anak yatim, dan ibnu sabil.

Sedangkan ketika diuji dengan kemiskinan, Nabi Ayyub tetap menjadi orang yang sabar. Dalam keadaan miskin dan sakit, Nabi Ayyub tidak berhenti berdzikir kepada Allah. Meskipun saat itu dia kehilangan harta, anak, dan dijauhi oleh orang sekitar.

2. Tidak meletakkan kesedihan dan kebahagiaan pada harta yang dimiliki.

Masa proses kejatuhan yang dialami oleh Nabi Ayyub berlangsung hanya dalam waktu 3 hari. Dalam waktu tersebut, hidup Nabi Ayyub langsung berbanding terbalik. Beliau kehilangan seluruh harta juga anak – anaknya. Siapapun pasti akan merasa sedih bahkan protes kepada Allah jika mengalami ujian yang dialami oleh Nabi Ayyub, secara tiba-tiba.

Akan tetapi, Nabi Ayyub masih mampu bersabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah. Hal ini karena beliau menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah milik Allah. Dan Allah bisa mengambilnya kapan saja Allah inginkan. Sehingga beliau tidak meletakkan kesedihan dan kebahagiaan pada apa yang dimilikinya.

3. Ujian yang datang akan sesuai dengan tingkatan keimanan.

Setiap orang pasti akan mendapatkan ujian sesuai dengan tingkatan keimanan. Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka akan semakin sulit juga ujian yang akan dia dapatkan. Dan saat menghadapi ujian tersebut lah kita bisa mengetahui ada dimana tingkatan kita.

Ada empat tingkatan manusia saat dia menghadapi musibah.
# Yang pertama adalah yang lemah,
yaitu yang banyak mengeluh kepada makhluk.
# Kedua, adalah bersabar,
yang hukumnya adalah wajib.
# Ketiga, adalah orang yang ridha.
Tingkatan ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari sabar.
# Dan terakhir adalah orang yang bersyukur,
yaitu orang yang dapat menganggap suatu musibah sebagai nikmat.
Nabi Ayub tidak menyalahkan orang- orang yang menjauhinya, tidak mengungkit kebaikan – kebaikannya yang telah lalu, tidak menuntut balas budi dari orang – orang yang pernah ditolong nya. Husnudzon nya tinggi, keyakinan bahwa Allah SWT sendiri lah yang akan turun tangan sendiri menolongnya. Sebuah kemuliaan yang besar, bila sang pemilik Arsy sendiri yang langsung menolongnya.

4. Berdoa kepada Allah dengan doa yang baik.

Nabi Ayyub menjalani ujian selama puluhan tahun. Sampai suatu hari, istrinya meminta Nabi Ayyub untuk meminta kesembuhan kepada Allah. Namun, nabi Ayyub justru merasa malu karena masa sakitnya masih tidak sebanding dengan masa sehatnya.

Kemudian, ketika masa sakitnya sudah sebanding, istri Nabi Ayyub memintanya untuk kembali berdoa. Nabi Ayyub pun berdoa dengan doa yang sangat indah dan tidak memaksa. Doa tersebut diabadikan dalam Qur’an surat Al-Anbiya ayat 83 – 84 yang berbunyi:

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Itulah beberapa hikmah yang bisa diambil dari kisah Nabi Ayyub. Seorang nabi yang sangat sabar terhadap ujian yang dialami. Semoga kita pun bisa meneladani kisah kesabaran Nabi Ayyub tersebut.

Semoga bermanfaat..🙏🏻

by. Lila Usmawati

2 PESAN SANG AYAH

Sebelum sang ayah menghembuskan nafas terakhir, dia memberi pesan kepada kedua anaknya :

“Anakku, dua pesan penting yg ingin ayah sampaikan kepadamu untuk keberhasilan hidupmu

Pertama: jangan pernah menagih piutang kepada siapapun

Kedua: jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari secara langsung”

5 tahun berlalu sang ibu menengok anak sulungnya dg kondisi bisnisnya yg sangat memprihatinkan, ibu pun bertanya “Wahai anak sulungku kenapa kondisi bisnismu demikian?”

Si Sulung menjawab : “Saya mengikuti pesan ayah bu…!!??

Pesan yg Pertama Saya dilarang menagih piutang kepada siapapun sehingga banyak piutang yg tidak dibayar dan lama² habislah modal saya..

Pesan yang kedua ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsung dan saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya pergi dan pulang kantor saya selalu naik taxi”

Kemudian sang ibu pergi ke tempat si bungsu yang keadaannya berbeda jauh. Si bungsu sukses menjalankan bisnisnya.

Sang ibu pun bertanya “Wahai anak bungsuku, hidupmu sedemikian beruntung, apa rahasianya…?”

Si bungsu menjawab : “Ini karena saya mengikuti pesan ayah bu..

Pesan yg pertama saya dilarang menagih piutang kepada siapapun. Oleh karena itu saya tidak pernah memberikan hutang kepada siapapun tetapi saya beri sedekah sehingga modal saya menjadi berkah”.

Pesan kedua saya dilarang terkena sinar matahari secara langsung, maka dg motor yg saya punya saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, sehingga para pelanggan tahu toko saya buka lebih pagi dan tutup lebih sore”.

Perhatikan..

Si Sulung dan Si Bungsu menerima pesan yang SAMA, namun masing²memiliki penafsiran dan sudut pandang atau MINDSET berbeda. Mereka MELAKUKAN cara yg berbeda sehingga mendapatkan HASIL yg berbeda pula.

hati-hatilah dengan mindset kita

Mindset positif memberi hasil menakjubkan, sebaliknya mindset negatif memberikan hasil menghancurkan.

The choice is yours!

 

by. M. Yasir Arrafat